Selasa, 23 Juli 2013

Inspiring Song

Faithful to the End 


When I'm feeling afraid, full of uncertainty, 
When the plans that I've made all fall apart, 
When the futures unclear, and all that I can do is wait, 
There is a promise echoing in my heart: 

That He will be faithful to the end, 
He will provide time and time again, 
He will be faithful, so faithful to the end, 
And He will be there when all else fades, 
His love is stronger than my pain, 
He will be faithful, faithful to the end. 

There is Grace I can't measure, 
Mercy I don't deserve, 
There's forgives thats endless for me, 
Oh what a blessed assurance, 
To know how deeply I'm loved, 
And I'm always reminded, that he will be all I need, 
All I need. 

Hola people.. This song fits my current situation, where I can see nothing in a long long dark tunnel, but need to trust Him to lead the way. The lyrics say it all. So, goodday and keep spirit! Don't let your joy depends on your cirscumtances! Never!

YTDM

Minggu, 30 Juni 2013


Movie Review

Title                             : In Time
Genre                          : Science fiction & Action
Production year          : 2011
Director                       : Andrew Niccole
Runtime                      : 109 minutes
Cast                             : 

  • Justin Timberlake 
  •  Amanda Seyfried 
  • Cillian Murphy
  •  Olivia Wilde 
  • Matt Bomer 
  • Alex Pettyfer
  •  Vincent Kartheiser 
  • Johnny Galecki


This movie tells that human life genetically engineered will stop in 25 years old where time is currency in 3013. Rich people can live forever meanwhile the poor cannot. Will Salas, a Dayton factory worker got a lot of time from Henry Hamilton, a rich man New Greenwich from time robbery Fortis. He then moves to New Greenwich after his mom dead due to running out of time. He passes 3 different zones with different payment of time to arrive in New Greenwich. He meets a millionaire man in casino who possesses 10,000 years named Philippe Weis and his daughter, Sylvia. From there the adventure is beginning when the time keeper, Raymond Leon try to arrest him because he becomes suspect over the death of Henry Hamilton.
In this movie, Will Salas acted as an ordinary man who seeks justice from the government. Dayton, a poor country where its people suffer because they don’t have much time, makes Sylvia aware that the condition in her hometown is inversely related with Dayton. This movie is a little different from other action movie because there is no stiff resistance but it still assume as good film that give many meaning.


No dark, no horror, as usual action film which fight with something that the main actor believe and convinced. Only insert the science fiction as genre of the movie which makes this movie greater. For the first time you see it, you might be confused and wondering why he be like that, same as I and my friend when we see the first part of movie.
So many meaning that the audience may get from this movie like, don’t waste your time with do useless thing, and try to be a person who cares other as well as if you see from politic aspect the condition in the movie is reflect the condition in our country right now and this movie show the impact that have same reflection of the real world. I think we can learn from “In Time” how to erase the main problem in the country in positive way. This movie teach us how to resist injustice with injustice action which actually just for the weak.
Source: en.wikipedia.org/wiki/In_Time‎

(Novi)

Jumat, 21 Juni 2013

Courageous



Two days ago, I watched this movie called courageous, and thought that I would share it to this blog, since I had nothing to write on this blog. Cause, if I do not write anything, I will get fined :P. Well, uhm!

Story line (taken from IMBd)

Four men, one calling: To serve and protect. As law enforcement officers, they face danger every day. Yet when tragedy strikes close to home, these fathers are left wrestling with their hopes, their fears, and their faith. From this struggle will come a decision that changes all of their lives. With action, drama, and humor, the fourth film from Sherwood Pictures embraces God's promise to "turn the hearts of fathers to their children, and the hearts of children to their fathers." Souls will be stirred, and hearts will be challenged to be ... courageous! ... Anonymous

During the playing, I could not stop thinking "when I get chance to go back to my hometown, I will definitely watch this again with my family" or "one day, If it is God's willing that I will get married with someone, my future husband must be someone who loves Him more than me". Some things like that. 

One of parts that I like is the resolution. Here is the resolution; 

I DO solemnly resolve before God to take full responsibility for myself, my wife, and my children. I WILL love them, protect them, serve them, and teach them the Word of God as the spiritual leader of my home. I WILL be faithful to my wife, to love and honor her, and be willing to lay down my life for her as Jesus Christ did for me. I WILL bless my children and teach them to love God with all of their hearts, all of their minds, and all of their strength. I WILL train them to honor authority and live responsibly. I WILL confront evil, pursue justice, and love mercy. I WILL pray for others and treat them with kindness, respect, and compassion. I WILL work diligently to provide for the needs of my family. I WILL forgive those who have wronged me and reconcile with those I have wronged. I WILL learn from my mistakes, repent of my sins, and walk with integrity as a man answerable to God. I WILL seek to honor God, be faithful to His church, obey His Word, and do His will. I WILL courageously work with the strength God provides to fulfill this resolution for the rest of my life and for His glory. As for me and my house, we will serve the Lord. ---Joshua 24:15


Due to my businesses, I'm going to stop right now. If later I get chance, I will edit some parts. At least I've contributed something. Thanks! :)



YTDM







Senin, 03 Juni 2013

Kontemplasi




 Sisi Lain


Jika hidup dapat dipilih, jika waktu dapat diputar kembali, jika kita mempunyai waktu yang lebih banyak dalam 1 harinya, dan seandainya kata jika itu dapat terwujud, keinginan semua orang dapat menjadi nyata, tidak lebur seperti butiran debu yang menghilang dibawa angin. Sayangnya kata jika itu hanyalah sepenggal harapan yang tak akan pernah menjadi sebuah kenyataan manis.  Peluhlah yang saat ini berganti menjadi sebuah harapan, harapan seseorang untuk hidup lebih baik, harapan untuk merasakan apa yang orang lain rasakan, dll.

Seperti seorang tua yang terlihat dalam foto itu  – orang tua yang menarik gerobak dengan badannya. Kenapa menarik gerobak dengan badannya? Kenapa tidak dengan tangnya? Karena dia tidak mempunyai tangan yang dapat ia gunakan untuk mendorong gerobak, untuk makan, seperti orang lain. Tak patah semangat demi menyambung hidupnya serta keluarganya, ia rela berjalan menyusuri jalan setapak dibawah terik matahari dengan peluh yang membasahi  tubuhnya. Tanpa memohon belas kasihan pada orang lain, ia menjajakan barang dagangannya demi untuk mendapatkan satu atau dua lembar uang. Apa yang akan kamu lakukan jika seandainya kamu yang berada diposisinya? Akankah kamu setegar dia dalam menghadapi pahitnya hidup?

Tegar bukan berarti bertahan hidup untuk saat ini tanpa memikirkan hari esok, tapi tegar adalah harapan yang dapat mendorong seseorang untuk merubah hidupnya menjadi lebih baik. Dan hal itulah yang tercemin dalam diri orang tua itu. Dan itulah satu-satu nya senjata yang ia punya untuk melucuti kesulitan – kesulitan di dalam hidup ia dan keluarganya. Harapan, semangat dan tekad. 3 hal itulah yang mebuatnya dapat bertahan hingga sekarang, hingga saat ini, dia mewujudkannya dengan harapan  bukan hanya berandai – andai tanpa melakukan apapun atau bahkan mengeluh. 

Oleh: Novitri Afyani
3 Juni 2013

Selasa, 14 Mei 2013

Cerpen oleh Palris Jaya - FLP Jakarta

http://peaceofhumanitarian-brotherhood.blogspot.com/

Tugas Resume Pertemuan Ke-3
Pramuda Angkatan 17
Membahas Cerpen oleh Mas Palris Jaya
Oleh: Isti Toq’ah
Minggu, 24 Maret 2013
Masjid Amir Nur Hamzah, Taman Ismail Marzuki Jakarta
            Pertemuan Pramuda 17 kali ini membahas seputar cerpen. Pengisi materi adalah Mas Palris Jaya. Ia akrab dipanggil Mas Ipal. Pembahasan materi tidak distruktur berurutan, namun ilmu yang didapatkan luar biasa banyak. Berbeda rasanya kalau hanya membaca buku panduan menulis cerpen.
            Pertama, dalam dunia kepenulisan perlu memantapkan tujuan dan motivasi dulu. Menanyakan pada diri sangat perlu. Apakah menulis untuk dipublikasikan? Skenario sinetron atau filmkah? Atau malah ingin mengikuti jejak penulis terkenal? Mas Ipal sendiri awalnya menulis karena penasaran cerpennya dimuat. Nah ini setelah ia mencemooh cerpen di Anita Cemerlang. Bagi anak laki-laki yang menyukai kungfu dan cerita pendekar, cerpen seperti itu terlalu cengeng.
            Ternyata menulis itu tidak mudah. Banyak kali cerpen Mas Ipal ditolak. Padahal sudah susah payah dikirim dari kampung nun jauh di Padang, Sumatera Barat. Saat itu mesin ketik bermodal boleh pinjam dari Bank BRI terdekat menjadi harapannya. Diksi dan teknis penulisan Mas Ipal masih belum rapi. Itulah respon dari redaksi majalah. Ini membuatnya tidak sepakat dengan Mas Arswendo Atmimiloto ”Mengarang Itu Mudah”.
            Mas Ipal tidak menyerah. Akhirnya ia menemukan tujuan yang lebih memotivasi. Menaklukan penerbit adalah tujuannya. Mempelajari referensi cerpen-cerpen yang sudah dimuat menjadi strateginya. Jadilah mau tidak mau menulis memerlukan modal. Paling tidak untuk membeli majalah. Mas Ipal bukan hanya rela tidak jajan, tapi juga tidak membeli buku pelajaran.
Suatu hari ”Anita Cemerlang” dalam rubrik ”Semua Orang Bisa Mengarang” mengungkapkan semua kaidah menulis. Cara mengetik yaitu mengikuti kaidah kepenulisan. Selanjutnya standar setiap majalah bisa saja berbeda. Ini perlu diperhatikan. Terutama dalam jumlah karakter, kata, dan atau halaman. Dilanjutkan dengan proses pengeditan. Cerpen hanya fokus pada satu cerita tokoh. Halaman sangat membatasinya. Kalau terlalu panjang akan menjadi cerber. Pengeditan juga memastikan kata-kata yang dipilih sudah padat. Informasi yang tidak terelakkan juga menjadi nilai tersendiri (plus point).
Saya bertanya kepada Mas Ipal. Bagaimana menulis cerpen yang mengandung perdamaian lintas agama (interfaith dialogue)? Ia menjawab bahwa isu sosial terkait keseharian kita bisa diangkat. Tentu saja tanpa secara langsung menjabarkan ajaran Islam secara terbuka. Di dalam cerpen nilai-nilai kebaikan Islam yang universal bisa dimasukkan.
Cerpen tidak harus memberi solusi masalah tokoh. Cerita dalam cerpen boleh saja mengambang. Contohnya, ”Menemani Ayah Merokok”, ”Tanah”, dan ”Vijay, Bajaj Pasti Berlalu.” Isu-isu sosial yang dibahas sering terjadi. Mulai perang antar kampung, sengketa tanah, sampai suara bising mesin bajaj dan musik dangdut. Penulis harus cerdik mengemas misi sederhana. Tetap ingat cerpen ditulis menurut kaidah penulisan dan standar majalah. Cerpen hanya bisa sampai ke pembaca melalui majalah yang memuat. Mau tidak mau mesti melalui editor terlebih dahulu.
”Menemani Ayah Merokok” membawa pesan sederhana. Tokoh anak tidak suka ayahnya merokok. Lalu ayahnya jatuh sakit. Ia pun dengan setia menemani ayahnya sampai meninggal. Nilai kemanusiaan berupa ketaatan seorang anak menjadi pesan universal termasuk Islam. Ajakan untuk tidak merokok bisa dikemas tanpa kesan menggurui.
Dalam ”Vijay, Bajaj Pasti Berlalu” tokoh merasa kesal. Ia terganggu dengan suara mesin bajaj yang dipanaskan setiap subuh. Sampai-sampai ia menginap di rumah temannya. Padahal bagi anggota keluarganya yang lain suara itu sebagai alarm yang membangunkan. Kegiatan yang dimulai pagi hari pun menjadi tepat waktu. Suatu pagi tidak terdengar suara mesin bajaj. Ternyata karena sopir bajaj mengalami kecelakaan. Keluarga tokoh bangun kesiangan. Mereka merasa kehilangan.
Rani menanyakan cara memunculkan konflik yang bisa membawa emosi pembaca. Berapa konflik yang bisa ditulis? Mas Ipal mengatakan meramu konflik perlu beberapa trik. Mulai dari merasakan konflik yang dialami tokoh. Lalu membawa perasaan penulis saat memunculkan konflik. Sampai memunculkan shocking therapy berupa konflik yang naik-turun.
Sebagai contoh ”Yang Setelah Kemarau.” PAM di rumah tokoh mati. Orang tuanya berpisah. Lalu ia tinggal dengan bapak dan kakak laki-lakinya. Kakaknya tidak mau membantu mencari air karena hobi pacaran. Tokoh ikut lomba menulis agar hadiahnya bisa untuk membeli pompa air. Saat akan membeli majalah untuk melihat pengumuman lomba, uangnya mepet. Setelah rela tidak jajan, ia membeli majalah namun kalah lomba.
Purwanto bertanya beberapa pertanyaan. Bagaimana memperhatikan karakter media tertentu? Apakah bisa ada kejadian salah muat sampai salah target pembaca? Apa perbedaannya antara cerbung dan cerpen? Bagaimana menebak ending penulis dengan tepat? Mas Ipal merespon bahwa jelas kalau tidak mengikuti standard media pasti akan ditolak. Ini termasuk juga gaya bercerita ciri khas media. Sedangkan tentang salah muat tidak mungkin terjadi. Setiap pembaca memiliki pilihannya sendiri. Lalu, cerbung dimuat secara berseri. Sedangkan cerpen hanya 4-8 halaman saja tanpa berseri. Ending hanya ada tiga macam saja: happy, sad, dan opened.
Mas Ipal mengingatkan untuk memilih genre. Apakah drama, komedi, horror, atau yang lainnya? Ini untuk memperjelas dan memudahkan memutuskan jenis ending. Sebenarnya komposisi menulis dalam setiap tulisan kurang lebih sama. Porsinya saja yang berbeda. Cerpen memiliki takaran yang serba pendek saja.
Alif menanyakan bagaimana cara mendalami tokoh cerpen? Kemudian apakah boleh memasukkan kesukaan penulis? Misalnya Mas Ipal sepertinya menyukai hujan, makanya cerpennya sering ada hujan. Penulis awalnya menulis biodataatau anatomi tokoh dulu. Karakter teman bisa dimanfaatkan untuk membantu. Dimulai dari cara berpakaian tokoh. Lalu postur tubuh tokoh. Sampai tempat tinggal dan asal tokoh bisa mempengaruhi cerita. Hal-hal yang disukai penulis bisa menjadi karakter tulisan penulis.
Pertanyaan terakhir tentang transformasi karakter dan menentukan ending. Apakah ada template dalam cerpen? Mas Ipal merespon cerpen berbeda dengan novel. Halaman membatasi perubahan spesifik karakter tokoh. Tergantung kebutuhan penulis saja. Menulis tidak memiliki template. Untuk membuat opened ending bisa disiasati sejak awal cerita. Membuat pembukaan cerita semenarik mungkin menjadi siasat yang bagus.

Non Fiksi bersama Andi Tenri Dala F. - FLP Jakarta Pramuda 17

http://peaceofhumanitarian-brotherhood.blogspot.com/

Tugas Resume Pertemuan Ke-6
Pramuda Angkatan 17
Membahas “Non Fiksi” oleh Mbak Andi Tenri Dala F.
Oleh: Isti Toq’ah
Minggu, 5 April 2013
Taman Ayodia, Blok M, Jakarta
            Kali ini pertemuan keenam Pramuda FLP Jakarta Angkatan Ke-17 menghadirkan Mbak Dala lho. Topik diskusi kali ini adalah ”Non Fiksi”. Pembahasan materi tidak disampaikan dengan terlalu kaku ataupun runut. Mb Dala membagi ilmunya secara random sambil sesekali mengeluarkan satu per satu buku-buku koleksi kesayangannya dari tas kecil yang dibawanya.
            Wanita hebat yang pernah menahkodai FLP Jakarta ini bukan hanya sekedar menjelaskan materi ala kadarnya. Mbak Dala yang memiliki nama lengkap Andi Tenri Dala F. ini berbagi ilmu berdasarkan pengalaman pribadinya. Kebanyakan tentang duet Mbak Dala menulis yang mendapat kesempatan emas menulis bersama Mbak Asma Nadia dan senior-senior FLP Jakarta.
            Berikut ini adalah sedikit cas cis cus yang terekam di goresan tinta dan buku cerita saya. J Topik-topik yang unik dan menarik bisa menajadi senjata pamungkas penulis. Sekarang hampir tak ada topik yang tak pernah ditulis. Maka jadilah semakin unik topik yang ditulis, semakin tertarik dan ingin membaca para penikmat karya tulis. Lebih keren dan mantap apabila menulis apapun menggunakan referensi atau data. Jadilah bukan hanya menulis karya non fiksi yang memerlukan data lho.
            Misalnya menulis cerpen sejarah, pastilah perlu banget mencari data setting yang detail dan reliable. Iya bukan atau bukan? J Selain itu, menulis apapun termasuk non fiksi yang ingin dibukukan perlu memperhatikan stndardisasi jumlah halaman buku. Bisa dibilang tidak terlalu tebal ataupun tipis. Paling tidak dalam penulisan buku untuk proses pengumpulan atau penggabungan tulisan—apabila ditulis berjamaah—dan pengeditan memerlukan waktu sekitar dua bulan. Namun di luar kesemua itu, yang terpenting adalah “komitmen” dari semua penulis buku itu.
            Buku non fiksi yang ditujukan untuk buku bacaan selayaknya tidak ditulis dengan bahasa yang terlalu formal. Ini agar buku menjadi enak dibaca. Lalu, jangan sampai buku walaupun sudah diedit, masih saja berantakan. Dalam brainstorming penulisan sebuah buku perlu sekali sebanyak-banyaknya membuat pertanyaan yang unik. Ini dipastikan sudah mencakup 5W + 1H yaa... Contohnya, jika ingin menulis buku tentang ”Pendidikan Seksual” penulis bisa bertanya tentang:
1.      Apa yang memicu pelecehan seksual?
2.      Apa saja yang termasuk pelecehan seksual?
3.      Langkah  apa yang harus ditempuh kalu terkena pelecehan seksual? Ini termasuk tindakan hukum juga?
Kemudian, jangan sampai terlupa menuliskan referensi baik di footnote atau endnote dan daftar pustaka buku tersebut. Kalaupun referensi diambil dari karya yang belum dipublikasikan, tetap fardhu ’ain untuk mencamtumkan sumbernya, apalagi nama penulisnya dan judul tulisannya. Ini untuk mencegah dosa terkeji dalam dunia kepenulisan. Apalagi kalau bukan ”plagiarisme”! Nah, dalam berburu referensi sangat membutuhkan ketelitian. Kenapa begitu? Kalau saya pribadi sih simpel saja. Buku itu kan dikenal sebagai jendela dunia. Kalau buku yang kita tulis bukannya mencerahkan, tapi menyesatkan pembaca, jadinya gimana? L
Mencari referensi ini bisa melalui banyak cara. Misalnya dengan membaca, wawancara, dan banyak bertanya. Ini juga termasuk banyak-banyak memperhatikan orang. Kalau pinjam nasehatnya Ustadz Herry Nurdi Pak Adi Wicaksono, dan Pak Arya Noor Amarsyah, menjadi seorang penulis bukan hanya perlu matanya, telinganya, hatinya, pikirannya, bahkan sixth sense-nya. Hohoho J
Inilah yang membuat setiap orang sangkat berpeluang menjadi penulis. Semua manusia dianugerahi berkah yang sudah tepat dosisnya oleh Allah Yang Maha Pencipta dan Maha Adil serta Maha Penyayang. Setiap ide besar diwariskan di pikiran dan akal manusia. Tinggal manusianya saja yang bagaimana seize those ideas. Mbak Ifa Avianty pernah curhat tentang seseorang yang memberikan komentar di Facebook-nya. Isi komentar kurang lebih begini, “Mbak Ifa ini nulis ide yang saya pikirin lho…” Lah? Mbak Ifa hanya tersenyum kecut dan tidak membalasnya. Sambil mengelus dada Mbak Ifa berkata juga kurang lebih begini, “Kalau memang dia puny a ide itu, kenapa ga segera dituliskan dan dipublikasikan?” Hehehe. Saya dan cacing kremi saya di perut pun tak sengaja ikut terkekeh mendengar celotehan ini.
Penulis buku “Muslimah Nggak Gitu Deh!” ini menyemangati kami, anggota Pramuda 17 FLP Jakarta untuk jangan sekali-kali meremehkan pengalaman pribadi. Terus? Ada lagi yang lebih “wow” lagi. Mood itu buat diemut!” Hehehehe J Makanya, kalau pun kita lagi malas menulis, lakukan apapun yang merepresentasikan menulis. Misalnya seperti meng-update status di Facebook dan Twitter. Status dan tweet yang bagus dan baik di social media banyak yang sudah menjadi gundukan buku. J Subhanallah ya?! Ini juga termasuk blog.
Beberapa teman Pramuda 17 FLP Jakarta sempat berdiskusi lebih banyak dengan bertanya langsung pada penulis buku “Don’t Touch Me!” ini. Sekelumit pertanyaan plus jawabannya sempat mengendap di otak saya setelah masuk melalui telinga kanan saya—karena belum sempat kabur melalui kuping kiri. Seperti yang sudah Mbak Dala sampaikan, banyak hal bisa ditulis. Ini termasuk cerita sehari-hari atau kisah nyata bisa disampaikan dengan ringan untuk memotivasi dan menginspirasi seperti dalam buku ”Chicken Soup”.
Ada pertanyaan yang lumayan menggelitik. Menulis kreatif itu yang gimana sih? Penulis buku “Gara-Gara Jilbabku” ini pun merespon. Kalau di karya fiksi, tulisan yang kreatif ya yang menarik. J Nah, semua yang kita tulis itu kan tinggal menceritakan apa yang sudah ada. Ini juga pernah disampaikan oleh penulis buku ”Jodoh Dari Surga”. Tidak ada ide yang benar-benar fresh. Tinggal bagaimana kita menuliskannya. Moderator bernama Lia dari Muda 16 FLP Jakarta ikut menyemangati. Kreatifitas yaitu bagaimana cara kita menghubungkan satu ide yang sudah ada dengan ide lain yang juga telah ada. Mbak Dala memantapkan dengan berkata bahwa di masa depan bisa jadi semua hal sudah tergantikan dengan mesin seiring dengan semakin majunya teknologi yang dikembangkan oleh manusia. Nah, yang tersisa hanyalah apa yang ada di pikiran kita baik dituangkan melalui karya seperti: menulis, menggambar, menulis lagu, berdebat, dan lain sebagainya. Kemudian, selain memilih topik yang unik dan menarik, menentukan target pembaca juga sangat perlu.
Menulis bagi yang tidak sempat bergabung dengan organisasi atau komunitas menulis seperti FLP Jakarta sebenarnya bukanlah hambatan apalagi alasan untuk tidak melanjutkan menulis. Kemudian, cara mudah memulai menulis seperti yang disebutkan di atas yaitu dengan tidak mengabaikan pengalaman pribadi. Ini sudah dilakukan oleh banyak penulis seperti Mas Iwan Setiawan dalam novelnya ”9 Summers 10 Autums”. Buku ini sebenarnya merupakan otobiografi penulis. Karena dibungkus dengan ringan dan tidak terlalu curhat seperti diary, maka jadilah buku ini terkesan seperti novel biasa yang luar biasa. J
Nah, terus yang terpenting, mumpung masih ada umur dan waktu, jangan lupa untuk membuat target menulis yaa!!  Bagi yang merasa kurang nyaman untuk membedah karyanya, bisa langsung saja mengirimkan tulisannya untuk dipublikasikan setelah diedit dengan rapi. Last but not least, menulis outline bisa jadi sangat bermanfaat walaupun kita hobi menulis secara impromptu atau spontan. Outline itu sama seperti pipa air yang mengatur aliran air yang dibuka dari kran—sebagai sumbernya.
Selamat dan semangat menulis!!!
^_^